Monday, June 17, 2013

Merancang Kematian yang Indah

 إن الحمد لله وحده, نحمده و نستعينه و نستغفره ونتوب اليه ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا من يهده الله فهو المهتد ومن يضلله فلن تجد له وليا مرشدا, أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك له وأشهد أن محمدا عبده ورسوله بلغ الرسالة وأدى الأمانة ونصح للأمة وتركنا على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها الا هلك, اللهم صل وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه ومن دعا بدعوته الى يوم الدين. أما بعد, فيا عباد الله اوصيكم ونفسي الخاطئة المذنبة بتقوى الله وطاعته لعلكم تفلحون. وقال الله تعالى في محكم التنزيل بعد أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (ال عمران : (102
 
Kaum muslimin rahimakumullah…
Pertama-tama, marilah kita tingkatkan kualitas taqwa kita pada Allah dengan berupaya maksimal melaksanakan apa saja perintah-Nya yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul saw. Pada waktu yang sama kita dituntut pula untuk meninggalkan apa saja larangan Allah yang termaktub dalam Al-Qur’an dan juga Sunnah Rasul Saw. Hanya dengan cara itulah ketakqawaan kita mengalami peningkatan dan perbaikan….
Selanjutnya, shalawat dan salam mari kita bacakan untuk nabi Muhammad Saw sebagaimana perintah Allah dalam Al-Qur’an :
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya bershalawat atas Nabi (Muhammad Saw). Wahai orang-orang beriman, ucapkan shalawat dan salam atas Nabi (Muhammad) Saw. ( Al-Ahzab : 56)
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Rutinitas kehidupan terkadang menyebabkan kita lupa pada kematian. Padahal, kematian itu adalah sebuah peristiwa besar yang pasti kita alami dan rasakan. Kematian adalah sunnatullah (sistem Allah) bagi setiap makhluk yang diberi-Nya kesempatan hidup di dunia ini, termasuk manusia, sebagaimana firman-Nya :
لُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Setiap yang bernyawa pasti merasakan kematian. Dan sesungguhnya pada hari kiamatlah akan disempurnakan balasan (amal) kalian. Maka, siapa yang (hari itu) dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah sukses besar. Dan tidak adalah kehidupan dunia ini kecuali (sedikit) kenikmatan yang menipu. (QS. Ali Imran : 185)
Jika kematian itu adalah sautu kebenaran yang pasti kita rasakan, maka mengapa kita seakan acuh-tak acuh saja padanya? Mengapa kita seakan melupakannya? Mengapa kesibukan menjalani kehidupan sementara di dunia ini menyebabkan kita seakan tidak maksimal dalam menghadapi kematian?
esibukan kita dalam menjalani kehidupan sementara ini, benar-benar telah memalingkan hati dan pikiran kita dari kematian; satu peristiwa besar yang pasti menimpa diri kita semua. Hal tersebut terbukti bahwa konsentrasi kita mengumpulkan harta, menambah jumlah tabungan bank, mencari berbagai sumber uang untuk merancang dan membangun rumah di dunia dan berbagai kebutuhan hidup lainnya melebihi konsentrasi kita merancang kematian itu sendiri. Padahal kematian adalah suatu kepastian. Hampir setiap hari kita melihat kematian. Sedangkan kematian adalah penentu keberhasilan atau kegagalan dalam perjalanan panjang kita menuju Allah Tuhan Pencipta alam.
Oleh sebab itu, mari kita fokuskan hidup kita untuk merancang kematian, dengan cara mendesain hidup ini semuanya hanya untuk Allah dan dijalankan sesuai aturan Allah dan Rasul-Nya. Berbahagialah orang-orang yang diberi Allah kemudahan untuk mendesain semua aktivitas hidupnya hanya untuk Allah dan dapat dijalankan sesuai aturan Allah dan Rasul Muhammad Saw. Sebaliknya, celakalah orang-orang yang memilih jalan hidupnya selain jalan Allah, semua aktivitas hidupnya bukan untuk Allah dan dijalankan di luar ketentuan Allah dan Rasul-Nya.
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Sebelum kematian tiba, kita akan melewati suatu fase yang bernama sakratulmaut. Sakratulmaut adalah pintu gerbang kita menuju kematian. Sakratulmaut adalah peristiwa yang amat menakutkan, karena saat sakrtaulmaut tiba, tak seorangpun dapat membantu dan menolong kita, kendati saat kritis itu, istri, sanak saudara dan handai tolan sedang mengelilingi kita. Kita akan bergulat sendirian dengan sakratul maut itu di tengah keramain orang-orang yang kita cintai dan sayangi. Semua mereka hanya dapat menatap kita dengan pandangan mata yang hampa. Saat itulah kita akan merasakan langsung apakah kita termasuk orang yang telah merancang kematian atau bukan. Apakah kita termasuk orang yang siap menghadapi kematian atau bukan.
Sakratulmaut adalah bahasa Al-Qur’an yang terdiri dari dua kata “sakrotan”; pecahan dari kata : سكر – يسكر – سكرا (sakiro – yaskaru – sakran) yang berarti “mabuk atau teler”. Kata “maut”; pecahan dari kata : مات – يموت – موتا (maata – yamuutu – mautan) yang berarti “mati”. Maka Sakratulmaut berarti “kondisi mabuk menghadapi saat kematian’.
Sakratulmaut juga dapat diakatakan sebagai warming up (pemanasan) kematian. Karena kematian itu sulit, berat dan amat sakit maka diperlukan pemanasan. Di samping itu, sebagaimana kehidupan pertama manusia memerlukan proses dan tahapan, maka kematian juga memerlukan proses dan tahapan agar bisa memasuki alam lain bernama Barzakh; sebuah alam yang jauh lebih besar dan sangat berbeda situasi, kondisi dan lingkungannya dengan bumi saat kita hidup di dunia.
Sakratulmaut adalah sesuatu yang ditakuti manusia. Faktanya, berbagai riset dan upaya telah dilakukan manusia untuk menghindarinya seperti, menciptakan obat-obatan untuk memperpanjang umur. Hal tersebut digambarkan Allah dalam firman-Nya :
وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ
Saat datanglah Sakaratulmaut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. (Q.S. Qaf: 19 )
Pertanyaan berikutnya ialah, apakah manusia mampu menghindari Sakratulmaut? Jawabannya tentu ‘mustahil’. Karena Sakratulmaut adalah voucher manusia untuk masuk ke Alam Barzakh, tempat penginapan mereka yang ketiga yang sudah disiapkan oleh Pencipta, Raja dan Pemilik alam semesta ini, yakni Allah Rabbul ‘Alamin, setelah kehidupan dalam rahim ibu mereka dan kehidupan di atas bumi. Mereka tidak akan dapat mengelak dan lari dari keharusan melewati sakratulmaut, sebagaimana mereka tidak bisa mengelak dan menghindar dari ketentuan dan kehendak-Nya ketika mereka diciptakan sebelumnya dari tidak ada menjadi ada.
Sebab itu, sebelum Sakratulmaut datang menghampiri kita, Allah sebagai Pemilik dan Pengendali jagad raya mengajak kita memikirkan dan menyaksikan kehendak, keputusan dan sistem-Nya tentang Sakratulmaut yang telah menjadi kenyataan sehari-hari yang kita saksikan seperti yang tercantum dalam surat Al-Waqi’ah berikut ini:
فَلَوْلا إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ (83) وَأَنْتُمْ حِينَئِذٍ تَنْظُرُونَ (84) وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْكُمْ وَلَكِنْ لا تُبْصِرُونَ (85) فَلَوْلا إِنْ كُنْتُمْ غَيْرَ مَدِينِينَ (86) تَرْجِعُونَهَا إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (87)
“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, (83) padahal kamu ketika itu menyaksikan (orang yang sedang sekarat itu) (84) dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihatnya (85) maka kalaulah kamu tidak tunduk (pada Kehendak Allah) (86) (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya semula) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” (Q.S. Al-Waqi’ah: 83 – 87)
Tentang kondisi Sakraulmaut tersebut, Sayyid Qutb menjelaskannya dengan begitu indah dan menarik dalam tafsirnya “Fii Zhilal Al-Qur’an”, sebagai berikut :
Apa gerangan yang akan Anda lakukan ketika nyawa telah berada di tenggorokan? Anda sedang berada di persimpangan jalan yang majhul (tidak diketahui). Kemudian, penggambaran Al-Qur’an yang inspiratif yang melukiskan semua dimensi sikap dalam sentuhan-sentuahan yang cepat, mengungkapkan semua kondisi yang sedang dihadapi, latar belakangnya dan semua yang akan menginspirasikannya… Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat itu) dan Kami (dengan malaikat-malaikat) lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihatnya…
Kita seakan mendengar suara tenggorokan orang yang sedang sekarat dan melihat tatapan wajahnya, merasakan bencana dan kesulitan (yang dihadapinya) lewat firman Allah, “Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan”. Sebagimana kita juga bisa melihat tatapan wajah yang tak berdaya, putus asa yang dalam raut muka orang-orang yang hadir (di sekitar orang sedang sekarat itu) lewat firman-Nya “ padahal kamu ketika itu melihat (orang yang sedang sekarat itu)”.
Di sini, pada momen ini, sungguh ruh (nyawa) itu telah selesai dengan urusan dunia. Ia telah meninggalkan bumi dan seisinya. Ia akan menyambut dunia yang belum pernah ditempatinya…Ia tidak akan mampu lagi menguasai sesuatu selain dari apa yang pernah ia tabung sebelumnya… berupa kebaikan atau kejahatan yang dilakukannya…
Di sini, ia melihat, tapi ia tidak mampu membicarakan apa yang dilihatnya… Ia telah terpisah dari orang-orang yang ada di sekitarnya dan apa saja yang ada di sekelilingya…Hanya fisiknya yang bisa disaksikan oleh yang hadir di sekitarnya…Mereka hanya melihat begitu saja sedangkan mereka tidak bisa melihat apa yang sedang terjadi dan tidak punya kuasa terhadapnya barang sedikitpun….
Di sini, kemampuan manusia terhenti… Ilmu pengetahuan manusia juga tidak berguna sebagaimana peran manusia juga tidak ada…Di sini, mereka mengerti, tapi tidak bisa membantahnya. Mereka lemah,…. lemah…..terbatas….terbatas…. Di sini layar diturunkan tanpa mereka lihat, tanpa sepengetahuan mereka dan tanpa kemampuan bergerak/berbuat.
Di sini, yang berperan hanya Qudrat Ilahiyah (Kekuasaan Allah)… Ilmu Ilahi…(Ilmu Allah)….Semua urusan murni milik Allah tanpa sedikitpun keraguan, tanpa bantahan dan tanpa ada kiat-kiat apapun. “dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu”. Di sini, terjadi kebesaran sikap yang membesarkan Kebesaran Allah… Kewibawaan dan kehadiran-Nya –Subhanahu Wata’ala – sedangkan Dia hadir setiap waktu. Ungkapan itu membangunkan perasaan akan suatu hakikat (kenyataan) yang dilupakan manusia.. Maka tiba-tiba, majlis yang menghadiri kematian merasakan seramnya (suasana) karena didominasi oleh ketakutan, kehadiran dan kebesaran-Nya…Yang mendominasi ialah ketidakberdayaan, ketakutan, keterputusan dan perpisahan…
Dalam kondisi liputan perasaan yang gemetaran, berdebar, putus asa, dan duka lara, datanglah tantangan (Keputusan Allah) yang memotong semua perkataan dan mengakhiri semua perdebatan : “. Maka jika kamu tidak tunduk (pada Kehendak Allah), (pastilah) kamu (mampu) mengembalikan nyawa itu (kepada tempatnya) jika kamu adalah orang-orang yang benar?” Jika sekiranya masalahnya seperti yang kamu katakan : “sesungguhnya tidak ada perhitungan dan tidak ada balasan”, berarti kamu orang-orang yang bebas tanpa ada pembalasan dan perhitungan? Jika demikian, kamu mampu mengembalikan nyawa – yang sudah sampai di tenggorokan itu – agar kamu hindarkan ia dari kondisnya yang sedang menuju perhitungan dan balasan itu…Padahal kamu berada di sekitarnya dan sedang menyaksikannya, sedangkan ia berlalu menuju dunia yang besar, dan kamu diam saja dan tidak berdaya…
Di sini, gugurlah semua alasan, habislah semua argumentasi, punahlah semua kiat dan habislah bantahan…Dan tekanan hakikat (kenyataan) ini membebani diri manusia. Sebab itu, mereka tidak akan mampu bertahan,(dengan kondisi pembangkangannnya kepada Tuhan Pencipta) kecuali jika mereka tetap menyombongkan diri tanpa bukti dan argumentasi”
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Terkait dengan sakratulmaut, manusia terbagi kepada tiga golongan. Pertama, golongan “Muqarrabin”, yakni orang yang dekat dengan Tuhan Pencipta ketika berada di dunia. Kedua, “Ash-habul Yamin” (Golongan Kanan) yang merupakan bagian dari ‘Muqorrobin”. Ketiga, golongan “al-mukadzi-dzibin adh-dhallain”, yakni orang-orang yang menentang dan menantang kebenaran Tuhan Pencipta dan sistem hidup yang datang dari-Nya dan tersesat dari jalan yang benar. Tentang ketiga golongan ini dijelaskan Allah dalam firman-Nya :
فَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُقَرَّبِينَ (88) فَرَوْحٌ وَرَيْحَانٌ وَجَنَّةُ نَعِيمٍ (89) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (90) فَسَلَامٌ لَكَ مِنْ أَصْحَابِ الْيَمِينِ (91) وَأَمَّا إِنْ كَانَ مِنَ الْمُكَذِّبِينَ الضَّالِّينَ (92) فَنُزُلٌ مِنْ حَمِيمٍ (93) وَتَصْلِيَةُ جَحِيمٍ (94) إِنَّ هَذَا لَهُوَ حَقُّ الْيَقِينِ (95) فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ (96)
“Adapun jika dia (orang yang mati) termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), (88) maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta Syurga kenikmatan.(89) Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan, (90) maka keselamatan bagimu karena kamu dari golongan kanan.(91) Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang menolak (kebenaran Tuhan Pencipta dan apa saja yang datang dari-Nya) lagi sesat, (92) maka dia mendapat hidangan air yang mendidih, (93) dan dibakar di dalam Neraka.(94) Sesungguhnya (yang disebutkan ini) adalah suatu keyakinan yang benar.(95) Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar (96)” (Q.S. Al-Waqi’ah: 88 – 96)
Ibnu Katsir, seorang ahli tafsir terkemuka menjelaskan ayat-ayat tersebut di atas dengan penjelasan yang sangat indah dan menarik. Alangkah baiknya kita simak penjelasan Beliau berikut ini : “ Inilah tiga suasana yang dialami oleh manusia ketika sakratulmaut. Adakalanya ia termasuk kaum ‘muqorrobin’ atau termasuk golongan yang ada di bawah mereka, “Ash-habul Yamin” , yaitu yang termasuk golongan kanan, dan ada yang teremasuk orang-orang yang mendustakan kebenaran, yang sesat dari petunjuk dan tidak tahu menahu tentang perintah Allah (al-mukadzi-dzibin adh-dhallain).
Itulah sebabnya Allah SWT berfirman, “Adapun jika dia termasuk orang yang didekatkan kepada Allah.” Mereka adalah orang-orang yang setia mengerjakan hal-hal yang diwajibkan dan di sunnahkan. Dan, meninggalkan hal-hal yang diharamkan dan dimakruhkan serta sebagian dari yang diperbolehkan. ”Maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta Syurga kenikmatan”. Dan, para Malaikat akan menyampaikan berita gembira itu ketika sakratulmaut tiba, sebagaimana yang diterangkan di dalam hadits Al-Barra’, Para Malaikat rahmat akan mengatakan, ‘hai ruh yang baik dalam jasad yang baik, kamu telah memakmurkannya, keluarlah menuju ketenteraman, rezeki, dan Tuhan yang tidak murka’.
Ruh dan Raihan dalam ayat ini berarti rahmat, rezeki, kegembiraan, dan kesenangan. “Dan Syurga kenikmatan”.
Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Imam Syafii’ dari Imam Malik dari Zuhri dari Abdurrahman bin Ka’ab bin Malik dari Ka’ab bahwa Rasul saw, bersabda, “ Ruh seorang Mu’min itu berupa (bagaikan) burung yang bergelantungan pada pohon Syurga sebelum Allah mengembalikan ruh itu ke jasadnya ketika membangkitkannya kembali.” (pada hari kiamat nanti).
Abul Aliah mengatakan, “Tidak akan dipisahkan nyawa seorang muqarrabin sebelum dihadirkan kepadanya satu dahan dari kenikmatan Syurga, lalu ruhnya itu disimpan di sana.” Di dalam sebuah hadits shaheh dikemukakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Ruh-ruh para Syuhada (orang-orang yang mati sedang berjihad menegakkan agama Allah) itu dalam tembolok burung hijau yang berterbangan di taman-taman Syurga kemana saja mereka kehendaki, kemudian bermalam pada pelita-pelita yang bergelantungan pada Arasy.”
Allah SWT berfirman, “Dan adapun jika dia termasuk golongan kanan.”. Yaitu, jika orang yang sedang mengalami sakratulmaut itu termauk golongan kanan, “maka keselamatan bagimu, karena kamu termasuk golongan kanan.” Yaitu, para Malaikat akan menyampaikan kabar gembira itu kepada mereka. Hal ini sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka, ’Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan Syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’ Kamilah pelindung-pelindungmu di dalam kehidupan dunia dan di Akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya kamu memperoleh pula apa yang kamu minta. Sebagai hidangan dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fush-shilat : 30 – 32)
Imam Bukhari mengatakan, “Maka salam sejahtera bagimu,” yaitu disampaikan salam kepadamu bahwa kamu termasuk golongan kanan.
Allah SWT berfirman, “ Dan adapun jika dia termasuk golongan orang yang mendustakan lagi sesat, maka dia akan mendapatkan hidangan air yang mendidih, dan dibakar di dalam Neraka.” Yaitu, bila orang yang tengah mengalami sakratulmaut itu termasuk golongan yang mendustakan kebenaran dan sesat dari jalan petunjuk, “maka dia mendapatkan hidangan dari air yang mendidih,” Yaitu cairan yang akan melelehkan isi perut dan kulit-kulit mereka. ” Dan dibakar di dalam Neraka,” yaitu dia akan ditempatkan di dalam api Neraka yang akan menyelimutinya dari semua arah.
Kemudian Allah berfirman, “Sesungguhnya ini adalah suatu keyakinan yang benar,” yang tidak diragukan lagi. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya. Dan dia adalah berita yang menjadi saksi. “Maka bertasbihlah dengan nama Tuhanmu yang Maha Besar.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa U’qbah bin Amir Al-Juhani berkata, “Maka bertasbihlan dengan nama Tuhanmu yang Maha Besar, (subhana Robiyal ‘Azhim)‘ Rasulullah mengatakan, ‘Jadikanlah ayat ini bacaan ruku’ kamu.’ Dan ketika turun wahyu kepada beliau, ‘Maka sucikanlah Tuhanmu yang Maha Tinggi,’(subhana Robbiyal A’la). Rasulullah mengatakan, jadikanlah ayat ini sebagai bacaan sujud kamu.”
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Setelah kita melewati “Sakratulmaut” berarti kita sedang berada pada batas terakhir dari perjalanan kita di dunia dan di batas awal memasuki dunia baru yang bernama Barzakh. Untuk memasuki dunia baru tersebut terlebih dulu kita harus membuka pintu masuknya. Pintu masuknya itu bernama “Kematian”. Ya, Kematian… Itulah fase yang harus kita lewati setelah melewati fase Sakratulmaut. Dengan kematian itu kita berhak mendapatkan tempat di alam Barzakh.
Kematian adalah sesuatu yang ditakuti banyak orang. Kendati pada kenyataanya, tidak ada seorangpun yang dapat menghindari atau lari dari kematian itu. Siapapun dia, Presidenkah, Rajakah dia, Konglomerat kah dia, Jendral berbintang lima kah dia, di mana dan kapanpun mereka berada. Mereka pasti mati. Selama mereka memiliki nyawa, pasti akan mengalami kematian. Hal ini telah menjadi ketentuan dan kehendak Tuhan Pencipta sebagaimana di jelaskan-Nya dalam surat Ali Imran ayat 185 dan Surat An-Nisa’ ayat 78 berikut ini :
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ…..(185)
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…” (Q.S. Ali Imran: 185)
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ (78)
Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendati pun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…. (Q.S. An-Nisa’ : 78)
Kematian sudah ditentukan bagi setiap yang bernyawa. Kematian tidak perlu dicari, karena ia yang mencari setiap yang bernyawa. Kematian tidak bisa diwakilkan, dipindahkan atau take over oleh yang tidak berhak, karena petugas kematian, yakni Malakul Maut yang diberikan tugas khusus mengurusinya belum pernah menerima sogokan dan tidak akan pernah. Karena semua Malaikat melakukan semua apa yang diperintahkan Allah kepada mereka, tanpa sedikitpun disimpangkan apalagi dimanipulasi, seperti yang Allah jelaskan :
قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ (11)
“Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kamu; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (Q.S.As-Sajdah (32) :11)
Demikian juga, bahwa kematian akan datang pada saatnya atau ketika ajal (batas)nya habis. Kematian tidak bisa diundurkan kendati barang sedetik. Tidak sedikit orang yang mencoba untuk mengundurkan kematian, tapi usahanya gagal dan sia sia belaka. Karena kematian adalah pintu masuk tempat tinggal sementara ketiga kita, yakni alam Barzakh. Maka, kitapun harus memasukinya, karena jatah menginap di penginapan di dunia sudah habis serta tempat kita di dunia sudah dibooking Malaikat untuk penghuni lain selain kita. Allah telah mengingatkan kita tentang hal ini dan apa yang harus kita lakukan sebelum kematian (maut) itu menjemput kita, seperti tercantum dalam firman-Nya berikut ini :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ (9) وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ (10) وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (11)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.(9) Dan belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Tuhan Penciptaku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang shaleh?” (10) Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (11)” (Q.S. Al-Munafiqun : 9 – 11)
Nah, sebelum kita dijemput Kematian (Maut) yang waktunya Allah rahasiakan… Ia bisa datang saat ini, satu detik setelah ini, satu menit setelah ini, satu jam setelah ini, satu hari setelah ini, satu pekan setelah ini, satu bulan setelah ini, atau satu tahun setelah ini dan seterusnya….Sebelum Kematian menjemput kita, cobalah gunakan kecerdasan Spiritual, Emotinal dan Intellectual yang Allah berikan kepada kita untuk menangkap rahasia di balik Kematian itu. Lalu, tanya diri kita dengan jujur seputar pertanyaan-pertanyaan berikut :
  1. Siapa yang menghadirkan saya ke dunia ini?
  2. Apakah saya sudah mengenal Tuhan Pencipta saya dengan baik?
  3. Apakah saya sudah mengenal Kitab Petunjuk Hidup (al-Qur’an) yang diturunkan-Nya untuk saya?
  4. Apakah saya sudah mengenal seorang manusia bernama Muhammad Bin Abdullah yang diutus-Nya untuk menjelaskan isi Kitab Petunjuk Hidup tersebut?
  5. Apakah saya akan hidup di dunia ini selama-lamanya?
  6. Tidak cukupkah kematian manusia yang saya lihat setiap hari di atas muka bumi ini dengan berbagai sebab, seperti gempa bumi, tsunami, angin topan, banjir bandang, perang, sakit jantung, darah tinggi dan bahkan ada yang tidak sakit sama sekali, menjadi pelajaran berharga bagi diri saya dan saya juga pasti akan mengalaminya, masalahnya hanya tinggal waktu?
  7. Bagaimana pandangan saya terhadap kehidupan dunia ini?
  8. Bekal apa yang sudah saya siapkan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian?
  9. Apakah saya sudah mengevaluasi hidup saya sejak masa baligh (dewasa) sampai saat ini?
  10. Sudahkah saya memiliki 10 Katrakter Mulia yang menjadi syarat kesuksesan hidup saya di dunia dan di akhirat nanti, yakni aqidah bersih, ibadah benar, akhlak kokoh, wawasan luas, memiliki skil kehidupan, fisik sehat dan kuat, mampu mengendalikan syahwat, urusan teratur, manajemen waktu baik dan memiliki tanggung jawab sosial.
Kaum Muslimin rahimakumullah….
Demikianlah khutbah ini, semoga Allah menolong kita dalam merancang kematian yang akan kita hadapi. Semoga Allah membuka peluang bagi kita untuk meraih kematian dengan predikat al-muqarrabin atau minimal ashabul yamin dan melindungi kita dari termasuk golongan al-mukadz-dzibin adh-dhallin….
Dan semoga Allah berkenan membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus, yaitu jalan para nabi, shiddiqin, syuhadak dan sholihin. Allahumma amin… (Mh)
بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه تعالى جواد كريم ملك رؤوف رحيم إنه هو السميع العليم …..


Sumber : eramuslim.com 

Monday, June 10, 2013

Q-DING Manajemen Lisan Seorang Muslim

ditulis by : Megawati


MANAJEMEN LISAN
SEORANG MUSLIM
Oleh ustadz Abu Abdillah Syahrul Fatwa bin Luqman
hafidzahullah



MUQODDIMAH
Sesungguhnya di antara nikmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya adalah nikmat lisan dan kemampuan berbicara. Allah menggambarkan besarnya nikmat lisan ini dalam beberapa ayat, di antaranya:
أَلَمۡ نَجۡعَل لَّهُ ۥ عَيۡنَيۡنِ (٨) وَلِسَانً۬ا وَشَفَتَيۡنِ
Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir. (QS. al-Balad [90]: 8-9)
Berbicara merupakan keistimewaan manusia yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
خَلَقَ ٱلۡإِنسَـٰنَ (٣) عَلَّمَهُ ٱلۡبَيَانَ
Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara. (QS. ar-Rahman [55]: 3-4)
Sebagai isyarat bahwa penciptaan manusia terbedakan dengan makhluk yang lain dengan kemampuan berbicara.[1]
Bahkan karena besarnya nikmat lisan dan berbicara ini, Allah menjanjikan surga bagi orang yang mampu menjaga lisannya. Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من يضمن لي ما بين لحييه وما بين رجليه أضمن له الجنة
Siapa saja yang menjamin kepadaku untuk menjaga yang di antara dua lihyah-nya (lisan), dan di antara dua kakinya (kemaluan), maka aku jamin baginya surga.”[2]
Akan tetapi, sebagian manusia tidak menggunakan nikmat ini dalam perkara yang bermanfaat dan ketaqwaan. Mereka tidak menggunakan lisan mereka untuk membaca al-Qur’an atau berbicara kebaikan! Bahkan sebaliknya, mereka menggunakan lisan mereka untuk perkara-perkara yang haram seperti menggunjing, namimah, dusta, dan sebagainya.
Ketahuilah wahai saudaraku, sesungguhnya manusia akan ditanya oleh Allah akan nikmat lisan. Sebagaimana Allah berfirman:
يَوۡمَ تَشۡہَدُ عَلَيۡہِمۡ أَلۡسِنَتُهُمۡ وَأَيۡدِيہِمۡ وَأَرۡجُلُهُم بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ
Pada hari [ketika], lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS. an-Nur [24]: 24)
Oleh karenanya, wajib bagi setiap muslim menjaga lisan dan pembicaraannya untuk ketaatan kepada Allah, agar tidak menjadi petaka bagi dirinya.
PERINTAH MENJAGA LISAN
Sangat banyak dalil-dalil yang memerintahkan (kita, -ed) untuk menjaga lisan, di antaranya:
  1. Dari al-Qur’an
Allah berfirman:
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (QS. al-Mu’minun [23]: 1)
Siapakah orang-orang yang beriman yang beruntung ini? Bagaimanakah sifat mereka? Allah melanjutkan firman-Nya:
ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى صَلَاتِہِمۡ خَـٰشِعُونَ (٢) وَٱلَّذِينَ هُمۡ عَنِ ٱللَّغۡوِ مُعۡرِضُونَ
[yaitu] orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, (2) dan orang-orang yang menjauhkan diri dari [perbuatan dan perkataan] yang tiada berguna. (QS. al-Mu’minun [23]: 2-3)
Imam asy-Syinqithi rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini, Allah menyebutkan sifat-sifat orang mukmin yang beruntung adalah mereka yang berpaling dari sesuatu yang tidak berguna, termasuk dalam hal ini antara lain perbuatan dan perkataan yang tidak ada manfaatnya, berupa main-main, senda gurau, atau perbuatan yang dapat mengurangi muru’ah (kehormatan)nya.”[3]
Allah juga berfirman:
مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ۬
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (QS. Qof [50]: 18)
2. Dari Sunnah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
من كان يؤمن بالله واليوم الأخر فليقل خيراً أو ليصمت
Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diamlah!”[4]
Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini sangat jelas, hendaklah seseorang tidak berbicara kecuali apabila perkataannya membawa kebaikan, dan kapan saja ia ragu untuk membawa kebaikan dalam perkataannya, maka hendaklah ia tidak berbicara.”[5]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده
Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.”[6]

BILA INGIN BERBICARA
Ketahuilah, lisan adalah penerjemah dari ungkapan yang tersimpan dalam hati. Kalimat yang telah terucap belum tentu bisa diralat. Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang berakal mengontrol ucapan yang keluar dari lisannya.
Imam al-Mawardi rahimahullah mengatakan: “Ketahuilah, bila ingin berbicara ada syarat-syarat yang harus diperhatikan, orang yang berbicara tidak akan selamat kecuali dengan memperhatikan syarat-syarat ini, yaitu:
Pertama: Hendaknya pembicaraan itu karena ada dorongan dan tujuan yang melatarbelakanginya, baik karena ingin memberi manfaat atau menolak bahaya.
Kedua: Hendaknya pembicaraan itu tepat sasaran yang diinginkan, tidak tergesa-gesa atau terlambat hingga tidak mengenai sasaran yang dituju.
Ketiga: meringkas pembicaraan sesuai dengan kebutuhan saja.
Keempat: Memilih kata-kata yang pas dan sesuai ketika berbicara, karena ucapan adalah gambaran karakter dan kepribadian seseorang.[7]

BEGINILAH GAMBARAN LISAN RASULULLAH
Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu pernah menuturkan tentang lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perkataannya: “Sungguh aku telah mengabdi (kepada, -ed) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selama sepuluh tahun, dan tidaklah pernah beliau berkata sama sekali kepadaku terhadap perbuatan yang aku kerjakan, ‘uff’ (ah), juga tidaklah beliau berkata kepadaku terhadap perbuatan yang aku kerjakan, ‘Mengapa engkau mengerjakannya?’ Dan tidaklah beliau berkata kepadaku terhadap pekerjaan yang belum aku kerjakan, ‘Tidakkah engkau kerjakan ini!’.”[8]
Demikianlah lisan suri teladan umat Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa indahnya lisan beliau. Tidaklah beliau berucap kecuali ucapan yang baik. Kemudian, bandingkanlah dengan lisan-lisan kita. Betapa banyak kita mengatakan kalimat “ah”, sebuah kalimat yang ringan untuk diucapkan; juga kalimat “Tidakkah engkau kerjakan ini?”, sebuah lontaran yang sering kita katakan; padahal kedua kalimat tersebut sangat dihindari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

MEWAPADAI BAHAYA LISAN
 

 Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar seorang muslim selalu berlindung dari bahaya da jeleknya lisan. Syakal bin Humaid radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, ajarilah saya sebuah do’a yang saya dapat berlindung dengannya.’ Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil tanganku seraya berkata, ‘Ucapkanlah:
اللهم اني أعوذبك من شر سمعي ومن شر بصري ومن شر لساني ومن شر قلبي ومن شر مني
‘Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari kejelekan pendengaran, dari kejelekan penglihatan, dari kejelekan lisan, dari kejelekan hati, dan dari kejelekan angan-angan’.”[9]
Bahaya lisan tidak bisa dipandang sebelah mata, karena petaka dan ancamannya sangat keras, di antaranya:
1.       Menjerumuskan pelakunya ke dalam neraka
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:
إن العبد ليتكلم بالكلمة ما يتبين فيها في النار أبعد ما بين المشرق والمغرب
Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu perkataan yang tidak diperhatikan (baik dan buruknya) menyebabkan ia tergelincir ke neraka dengan jarak yang lebih jauh daripada jarak timur ke barat.”[10]
Suatu ketika, Sahabat mulia Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah kita akan disiksa dengan sebab ucapan kita?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Celaka engkau wahai Mu’adz, tidaklah manusia tersungkur di atas wajah-wajah danhidung-hidung mereka di dalam neraka melainkan akibat ucapan lisan-lisan mereka.”[11]
2.       Kebanyakan dosa manusia berawal dari lisan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أكثر خطا يا إبن آدم في لسانه
Paling banyak kesalahan anak Adam bersumber dari lisannya.”[12]
3.       Ancaman yang keras
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ
Wahai sekalian orang-orang yang selamat lisannya sedangkan iman belum mengakar dalam hatinya. Janganlah kalian menyakiti kaum muslimin, janganlah kalian mencelanya, jangan mengorek-orek aurat mereka. Karena barangsiapa yang mengorek-orek aurat saudaranya (yang –ed) muslim, maka Allah akan membuka auratnya, dan barangsiapa yang Allah buka auratnya, Allah akan tampakkan aibnya walaupun di celah rumahnya.”[13]
4.       Orang yang paling dibenci Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Orang yang tidak mampu menjaga lisannya adalah orang yang paling dibenci dan dijauhkan kedudukannya pada hari kiamat kelak. Berdasarkan hadits:
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَ أَقْرَبِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ أَحَاسِنُكُمْ أَخْلاَقًا, وَ إِنَّ مِنْ أَبْغَضِكُمْ إِلَيَّ وَ أَبْعَدِكُمْ مِنِّيْ مَجْلِسًا يَوْمَ اْلقِيَامَةِ الثَّرْثاَرُوْنَ وَ الْمُتَشَدِّقُوْنَ وَ الْمُتَفَيْهِقُوْنَ. قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ! قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارِيْنَ وَ الْمُتَشَدِّقِيْنَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُوْنَ؟ قَالَ: الْمُتَكَبِّرُوْنَ
Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Orang yang paling aku cintai danpaling dekat kedudukannya kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling bagus akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya kelak pada hari kiamat adalah ats-tsartsarun[14], al-mutasyaddiqun[15], al-mutafaihiqun. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kami paham ats-tsartsarun dan al-mutasyaddiqun, tetapi siapakah al-mutafaihiqun itu?” Beliau menjawab: “Yaitu orang-orang yang sombong.”[16]
5.       Tercegahnya kebaikan
Dari Ubadah bin Shomith radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku keluar untuk mengabari kalian waktu Lailatul Qodr, kemudian ada dua orang yang saling mencela dan bertengkar, ternyata aku menjadi lupa kapan waktu tersebut. Semoga hal itu menjadi baik bagi kalian, carilah pada malam ke-29, 27, 25.”[17]
Perhatikanlah hadits ini wahai saudaraku, bagaimana berita tentang waktu Lailatul Qodr bisa hilang karena sebab dua orang yang bertengkar dan saling mencela!!

BENTUK-BENTUK PETAKA LISAN
Di sini kami hanya akan menyebutkan sebagian dari contoh-contoh petaka lisan yang banyak dikerjakan oleh mayoritas manusia, di antaranya:
1.       Syirik kepada Allah
Syirik adalah menyekutukan Allah dalam perkara-perkara yang menjadi kekhususan-Nya. Misalnya, memalingkan salah satu jenis ibadah seperti do’a dan selainnya kepada selain Allah. Sungguh betapa banyak ucapan yang terlontar oleh lisan (yang, -ed) menjerumuskan seseorang dalam kesyirikan, seperti bersumpah kepada selain Allah yang sering kita jumpai dalam kehidupan masyarakat. Contoh sederhana, ucapan “Demi kehormatanku, aku berjanji…”, dan sebagainya.
Dari Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya suatu ketika Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu mendengar seseorang bersumpah dengan mengatakan: “Tidak, demi Ka’bah.” Maka Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu berkata kepada orang tersebut: “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Barangsiapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah melakukan kesyirikan.”[18]
Atau contoh lain yang terucap oleh lisan seperti senandung, puji-pujian, dan sholawat yang berbau syirik, seperti ucapan, “Ya Robbi bil Musthofa balligh maqoshidana.” (Wahai Robbku, dengan perantara Nabi, sampaikanlah maksud-maksud kami.), sungguh sholawat semacam ini adalah kekeliruan besar, karena termasuk bentuk tawassul kepada zat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah meninggal!!
2.       Berduta atas Allah dan Rosul
Hal ini juga terlarang, Allah berfirman:
فَمَنۡ أَظۡلَمُ مِمَّنِ ٱفۡتَرَىٰ عَلَى ٱللَّهِ كَذِبًا أَوۡ كَذَّبَ بِـَٔايَـٰتِهِۦۤ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ يَنَالُهُمۡ نَصِيبُہُم مِّنَ ٱلۡكِتَـٰبِ‌ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوۡنَہُمۡ قَالُوٓاْ أَيۡنَ مَا كُنتُمۡ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ‌ۖ قَالُواْ ضَلُّواْ عَنَّا وَشَہِدُواْ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَنَّہُمۡ كَانُواْ كَـٰفِرِينَ
Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab [Lauh Mahfuzh]; hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami [malaikat] untuk mengambil nyawanya, [di waktu itu] utusan Kami bertanya: “Di mana [berhala-berhala] yang biasa kamu sembah selain Allah?” Orang-orang musyrik itu menjawab: “Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,” dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. al-A’raf [7]: 37)
Berdusta atas nama Allah dan Rosul-Nya bentuknya beragam, seperti berdusta dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dengan penafsiran yang tidak pantas, atau seperti memutarbalikkan perkara yang halal dan haram yang telah mapan dalam agama ini.
3.       Fatwa tanpa ilmu
Sungguh fenomena yang tak dapat dipungkiri, maraknya fatwa dari para da’i atau ustadz yang berlagak alim adalah petaka lisan yang sangat besar akibatnya. Betapa banyak karena sebab fatwa tanpa ilmu, manusia terjatuh dalam kesyirikan, kebid’ahan, bahkan –yang lebih parah- berdusta atas nama Allah dan Rosul. Sungguh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jauh-jauh hari telah mengabarkan hal ini dalam sabdanya:
Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu ini begitu saja. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu ini dengan mematikan para ulama, sehingga apabila Allah tidak menghidupkan seorang alim pun, maka manusia mengangkat tokoh-tokoh agama yang jahil (bodoh), lalu ketika mereka ditanya maka mereka menjawab tanpa ilmu, mereka itu sesat dan menyesatkan.”[19]
Maka hendaknya saudara-saudaraku berhati-hati dalam masalah agama ini, janganlah kita sembarangan berfatwa tanpa ilmu.
4.       Pembicaraan yang tidak bermanfaat
Ketahuilah, orang yang menyadari akan mahalnya waktu, tidak akan membiarkan waktunya berlalu begitu saja dengan obrolan yang tidak bermanfaat. Bahkan meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat termasuk indikasi bagusnya Islam seseorang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meniggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.”[20]
Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengatakan: “Barangsiapa yang mengetahui bahwa ucapannya termasuk amal perbuatannya, maka dia akan sedikit berbicara kecuali untuk perkara yang bermanfaat.”[21]
5.       Ghibah
Ghibah, berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ: أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ؟ قَالُوْا: اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ, قَالَ: ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيْلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ؟ قَالَ: إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ghibah adalah engkau menyebutkan saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.” Kemudian ada yang bertanya: “Bagaimana jika yang aku katakan memang ada padanya?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan: “Jika yang engkau katakan memang ada pada dirinya maka itulah ghibah. Jika tidak maka engkau telah berbuat dusta padanya.”[22]
Tidak diragukan lagi, ghibah hukumnya haram. Maka janganlah engkau biarkan lisanmu membicarakan saudaramu yang membawa engkau terjatuh dalam dosa. Allahul Musta’an.
Sumber: majalah AL FURQON No. 108, Rubrik Adab Islamiyyah  dan Tazkiyatun Nufus Hal.  49-53
[1] Adz-Dzari’ah ila Makarim asy-Syari’ah hlm. 191 al-Ashfahani
[2] HR. Bukhari: 6474
[3] Adhwa’ul  Bayan 5/310 asy-Syinqithi
[4] HR. Bukhari: 6018 dan Muslim: 47
[5] Syarh Riyadhush Shalihin 6/115 Ibnu Utsaimin.
[6] HR. Bukhari: 10 dan Muslim: 40
[7] Adabud Dunya wad Din hlm. 434-435 al Mawardi –tahqiq: Yasin Muhammad as-Sawwas
[8] HR. Bukhari: 5691 dan Muslim; 2309
[9] HR. Abu Dawud: 1551, Tirmidzi: 3492, Nasa’i: 5470. (Lihat Shahih Abu Dawud: 1372)
[10] HR. Bukhari: 6112 dan Muslim: 2988
[11] Lihat yakhrij lengkapnya dalam ash-Shahihah no. 412
[12] HR. Thobaroni, Ibnu Asakir, dan lain-lain. (Lihat ash-Shahihah no. 534)
[13] HR. Tirmidzi: 2032. Hadits ini dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib no. 2339
[14] Ats-Tsartsarun adalah orang yang banyak bicara.
[15] Al-Mutasyaddiqun adalah orang yang mengumbar omongan hingga tidak terkontrol.
[16] HR. Tirmidzi: 2018, dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah: 791
[17] HR. Bukhari: 2023


Q-DING Shadaqah Emang Ajaib

by : Rabiatul Adawiyah




 Diriwayatkan dari Abu Huroiroh, bahwa Rasulullah SAW bersabda : Allah berfirman :
‘’ Berinfaklah wahai anak Adam , niscaya Aku akan memberimu ganti ‘’
Keajaiban sedekah !!
Keajaiban shadaqoh memang banyak di ceritakan bahkan di buktikan dalam kehidupan sehari-hari. Dan di ceritakan juga tentang suatu kejadian luar biasa berkenaan dengan shadaqoh.
Dimana Syaikh ‘Athiyyah Muhammad Salim r.a , berkata  “ kejadian luar biasa in terjadi pada abad ke-14 hijriyah di Wadil Aflaj. Ada seorang lelaki keluar dari rumahnya untuk mencari air, namun ia tidak mendapatkan air di sekitarnya. Kemudian ia masuk ke sebuah tempat yang bernama Duhl. Duhl adalah sebuah tempat seperti gua yang terletak di lereng gunung, biasanya air hujan terkumpul di tempat tersebut, sehingga orang-orangmengambil airnya ketika musim panas. Ternyata ia tersesat di situ dan tidak ada petunjuk jalan. Ketika ia sedikit menjauh dari tempat tersebutdan tersadar bahwa dirinya tersesat serta tidak mampu untuk keluar, ia lantas duduk di situ sambil menunggu siapa tau ada diantara keluarganya yang datang mencarinya. Ia belum sampai ke tempat air padahal ia sudah lama menunggu. Ia pun merasa sangat lapar dan haus, lantas ia mengangkat kedua tangannya dan memohon kepada Robbnya. Tiba-tiba ada sebuah bejana di depannya. Dengan antusias ia segera mengangkat bejana tersebut ke mulutnya, ternyata isinya adalah susu sapi segar. Ia tinggal di tempat tersebut selama 15 hari dalam keadaan demikan kecuali di hari terakhir, ia tidak mendapatkan susu seperti biasanya. Setelah lama mencari, di hari terakhir itulah akhirnya para keluarga menemukan dirinya. Begitu kagetnya mereka melihat ia masih hidup meski tinggal sendirian di tempat tersebut sekian lamanya. Mereka lantas menanyainya, tapi ia tidak menjawab pertanyaan mereka. Justru ia bertanya balik kepeda mereka,
Apakah yang kalian kerjakan terhadap si Fulan , apakah kalian memberinya (susu) ?          Ternyata setiap harinya, mereka memberi susu sapi kepada anak yatim tetangga mereka-. Mereka menjawab, “Setiap hari, kami mengirimi susu kepada mereka kecuali kemarin.” Ia berkata, “Ya, aku sudah tahu itu.” Mereka bertanya balik, “ Bagaimana engkau bisa mengetahiunya?” Akhirnya ia pun bercerita kepada mereka tengtang datang nya susu yang melimpah kepadanya setiap hari kecuali kemarin.
Hikmah yang dapat kita ambil dar pelajaran shadaqoh adalah :
“Sesungguhnya shadaqoh bisa memberikan pengaruh yang menakjubkan untuk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zholim , atau bahkan orang kafir, karena Allah akanmenghilangkan berbagai macam bencana dengan perantaraan shadaqoh tersebut,”(Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah ).




Monday, May 13, 2013

Iman - Quotes

”Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepadaAllah dan RasulNya kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan hartadan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang –rang yang benar.” (QS. AlHujurat : 15),